Pages

Selasa, 02 Februari 2016

Selamat Ulang Tahun,

Sudah hampir pukul delapan malam. Kurang dari lima jam lagi hari ini akan berakhir. Namun aku belum mengirimkan sepatah kata pun di hari kelahiranmu. Maaf, ya. Bukannya aku lupa, aku hanya sengaja untuk pura-pura lupa. Tapi tetap saja seharian aku dibayangi oleh ucapan-ucapan yang ingin ku kirimkan. Meski mungkin nantinya ucapanku ini bukan ucapan yang begitu puitis, tapi dengan senang hati akan tetap ku tulis.

Selamat ulang tahun, kamu.
Dua-puluh-lima-tahun-mu ini semoga menjadi usia yang senantiasa membuatmu bahagia. Waktu yang kita punya sangat sedikit. Kita tahu persis bahwa pertemuan kita selalu dapat diukur dalam hitungan menit. Namun kali ini, meski tanpa temu, kue, lilin dan hadiah. Aku di sini dengan doa dan harapan agar kamu senantiasa diberikan kekuatan dalam menghadapi beban keseharian yang semakin hari semakin bertambah beratnya, diberikan kesehatan untuk terus membahagiakan ayah-ibu beserta saudaramu dan semoga saja termasuk aku, dilimpahkan rezeki yang halal untuk bisa mencukupi kebutuhanmu sendiri dan orang-orang lain di sekelilingmu yang tentu saja membutuhkan bantuanmu ini.  

Tetaplah menjadi lelaki pembelajar, karna ilmu tak akan pernah selesai meski terus dikejar.
Tetaplah menjadi lelaki yang tak kenal lelah, karna yang kamu miliki sekarang tak lepas dari hasil jerih payah.
Tetaplah menjadi lelaki yang tak pernah menyerah, kamu boleh berkeluh kesah asal jangan membuatmu semudah itu menyerah karna kamu tak akan pernah tau apa kebaikan yang akan kamu dapat saat kamu menyerah.
Tetaplah menjadi lelaki yang rendah hati. Dagumu tidak boleh merendah tapi jangan pula sampai meninggi. 
Tetaplah menjadi kamu. Kamu yang tetap menjadi dirimu sendiri, tapi jangan sampai tak mau mendengar kritik dari orang sekelilingmu.

Berbahagialah, karena akan selalu ada yang mencintai dan mendoakan segala yang baik untukmu.


Bogor, 02 Februari 2016

Alif.

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-3

Senin, 01 Februari 2016

Merindu

Selamat Datang Februari,

Bulan yang kata semua orang adalah bulan penuh cinta. Bagiku semua bulan sama saja, yang berbeda mungkin hanya berapa banyak tanggal merah di dalamnya. Awal Februari diawali dengan hari senin dan pagi hari diiringi rintik gerimis. Suasana ruangan kerjaku pun semakin menjadi dinginnya ditambah dengan kondisiku yang ikut terserang penyakit flu. Tapi sebentar, surat ini takkan bercerita tentang aku, ataupun datangnya bulan baru. Aku akan menulis sedikit tentang rindu yang tertuju padamu. Ya. Kamu. Surat ini masih untuk kamu.

Bagaimana kabarmu hari ini ? Sungguh seharian aku diselimuti rasa rindu menunggu kabarmu yang tak kunjung berseru. Mungkin kamu sedang berbahagia dengan rutinitasmu sehingga tak satupun kata terkirimkan padaku. Atau mungkin saja di sana sedang ada kabar yang tak seharusnya diketahui olehku. Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang mengitari ruang pikiranku. Hingga aku sadar bahwa aku tengah merindu. Geli sekali aku rasanya menuliskan ini. Tak ubahnya seperti para remaja yang sedang dimabuk cinta.

Hari ini hampir tak ada satupun notifikasi darimu yang tertera di ponselku. Aku mulai tak karuan. Merasa kesal, menyusun rencana membalas dendam untuk mengabaikan pesanmu atau hanya menjawab singkat dengan kaya 'iya'. Namun sayangnya tak ada namamu yang muncul di layar. Dengan rintikan suara hujan dan dinginnya malam, aku tetap menanti, mendekap sunyi diri sendiri, hingga mungkin aku terlelap dengan sendirinya dan keesokan harinya aku sadar bahwa semalam aku tak menemukanmu, aku hanya ditemani rindu.



#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-2
Surat ini tak dikirimkan melalui tukang pos karena sudah kehabisan waktu.


Minggu, 31 Januari 2016

Terima kasih, telah hadir kembali.

Seamat sore,

Kala kali pertama aku kembali menulis surat setelah sekian lama tak pernah menyusun rangkaian kata yang mereka bilang adalah surat cinta. Sore ini aku kembali lagi. Kembali menulis, kembali membuka kisah manis, dan kembali mengukir kisah cinta yang semoga saja romantis.

Maafkan aku karna aku tlah membuatmu begitu tak menentu dengan melarikan diri dari kisah yang pernah kita satukan dulu. Membuatmu menjadi seorang diri mengenang kata-kata puitis yang pernah ku tulis. Menjadikan aku sesadar-sadarnya perempuan yang begitu egois.

Terima kasih, karna telah hadir dalam hidup perempuan yang dipenuhi kisah mengharu biru dengan masa lalu yang begitu abu-abu sepertiku. Adalah kamu, yang bersabar menunggu meski aku berlalu, yang kembali meraih tanganku saat aku sudah hampir jatuh, yang bersedia menggenggam tanganku kemana aku ingin melaju.

Terima kasih telah kembali menjadikan kita satu. Menjadikan kamu satu-satunya lelaki yang aku tunggu dan menjadikan aku perempuan kedua yang kamu rindu setelah ibumu. Mulai saat ini mari kita sama-sama melafalkan doa-doa baik untuk kemudian didengar oleh langit dan tercatat dengan baik. 

Aku akhiri surat ini dengan senyum bahagia mendapatimu hadir kembali. Terima Kasih, lelaki baik.


With Love,
Alif

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-1

Senin, 18 Januari 2016

Tentang bagaimana aku dan kamu

Perempuan dan laki-laki itu berada di lingkungan yang sama tanpa mengenal satu sama lainnya. Sebut saja perempuan itu aku dan laki-laki itu kamu. Kamu tak pernah sedikit pun terlintas dalam benakku. Tahu namamu saja tidak. Perkenalan kami dahulu mengalir begitu saja. Semua berawal dari saling sapa di sosial media, lalu bertemu kembali dan bertegur sapa memalui tatap muka.

Kamu adalah sosok laki-laki pendiam dalam dunia nyata dengan bebagai macam hal yang sepertinya lebih mudah untuk menuangkannya dalam rangkaian kata bukan suara. Berbicara seadanya dan sepentingnya saja. Aku pun bukan perempuan yang pandai berbicara dalam lingkungan yang entah bagaimana aku bisa berada di dalamnya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa kami sama sekali jarang bertukar cerita.

Waktu berlalu.

Saat itu ada yang belum kamu tahu. Tentang bagaimana aku mulai mengagumi sosokmu. Menjadikan tulisan-tulisan singkatmu sebagai asupan yang tak pernah sehari pun terlewatkan untuk ku jadikan bahan bacaan. Tentang segala ceritamu yang tak sengaja melekat dalam ruang pikiranku. Tentang kamu yang tiba-tiba saja telah hadir dalam hati yang penuh akan kenangan masa lalu. 
Dan saat itu, sebelum kepergianmu. Semua yang belum kau tahu menjadi hal yang begitu telat diketahui dan menjadikannya sebagai hal yang berat untuk kamu melangkah pergi.

Setelah semuanya tak lagi menjadi rahasia. Kita menjadi sepasang manusia yang terikat dalam rasa dengan jarak ratusan kilometer jauhnya. Semuanya baik-baik saja sebelum akhirnya aku menghilang tanpa meninggalkan sebaris pesan perpisahan. Maaf, aku tak bisa bertahan.

Lalu, semesta menyatukannya kembali. Kali ini takdir benar benar sedang berbaik hati. Ada kata yang begitu tulus terucap olehmu dari hati. Sungguh tak ada perempuan yang tak senang mendengar hal ini. Tapi bagaimana bisa hati ini sesaat menjadi meragu, tak siap akan segala hal yang teniatkan olehmu. 

Seiring berjalannya waktu. Perasaan ragu tak lagi menyelimuti dalam diriku. Semua rasa takut seolah menghilang begitu saja dengan rasa yang berbeda dari sebelumnya. Aku ingin kamu. Ya, Kamu.
Ketika aku sudah meyakinkan diriku, kali ini berbalik kamu yang menjadi ragu. Oh semesta mengapa urusan rasa begitu sulit diterka ? Disaat kamu yakin aku malah meragu. Lalu disaat aku yang sudah yakin, berbalik kamu yang meragu. Apa perasaan memang sebercanda itu ? Mengapa perasan kita tak pernah berada dalam satu titik waktu yang tepat ? 




Minggu, 10 Januari 2016

22

Sebelum memulai menulis untuk pertama kalinya di tahun 2016, saya ingin mengucapkan Happy New Year! Walau masih gak paham sebenarnya apa yang harus diselamatkan.

Tahun baru untuk saya merupakan umur baru, berhubung jarak bertambahnya angka usia berdekatan dengan tanggal awal sebuah tahun dimulai. Tepat pada tanggal empat usia saya menjangkau angka 22. Tapi entah saya masih berasa bocah, untuk usia yang seharusnya sudah berpikir ya anggap saja fase pendewasaan saya malah masih bertingkah seenak jidat, semaunya--tapi masih dalam batas yang saya anut.