Pages

Sabtu, 25 Oktober 2014

I Can Be Your Band Aid

Aku sudah begitu lama mengenalmu. Bukan hanya satu atau dua hari saja. Sudah ratusan hari dan ribuan jam kita lalui bersama. Bukan untuk sekali atau dua kali juga kau membutuhkanku. Kau ceritakan lagi segala kesahmu, kau curahkan segala sedihmu, kau bagi juga luka yang sedang dirasakan olehmu. Aku dengarkan segala tentang kekasihmu. Kau tersakiti lagi dan lagi untuk sekian kali. Entah sampai kapan kau akan bertahan dengan cinta yang selalu menyakitimu. 

Aku memang tak mengerti bagaimana caramu mencintai, bagaimana caramu bisa bertahan meski sudah tersakiti. Mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan luka. Tapi kau harus sadar kau layak untuk bahagia. Aku memang tak bisa menyembuhkan luka yang kau rasa, but i can be your band aid. Pakai aku untuk menyembuhkan rasa sakitmu dan menutupi lukamu. Kau bisa melakukan itu kapanpun. Jika lukamu sudah mulai sembuh kau bisa melepas dan membuangnya. Seperti yang pernah aku katakan, "I can be your band aid.". 

#SehariMenuliSatu Day 5

Jumat, 24 Oktober 2014

Berkelana Seperti Kupu-kupu

Dia pernah terkucilkan. Hanya memiliki beberapa teman dan jarang sekali bepergian. Dia bukan dari keluarga bangsawan sehingga tak semua yang diinginkan bisa menjadi kenyataan. Keluarganya sederhana, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga dan ayahnya seorang abdi negara yang penghasilannya tak seberapa. Namun itu semua tetap membuatnya bangga. Dia tak pernah lelah untuk berusaha. Meski prestasinya belum pernah sampai menjadi yang pertama dan belum pernah berhasil memasuki sekolah-sekolah impiannya hingga merasa begitu menyusahkan kedua orang tuanya. Namun, segala usaha tak pernah disesalinya, pasti ada kebaikan dari tiap kegagalan yang dialaminya.


Kini, segala yang diinginkan perlahan bisa diwujudkannya. Dia sudah berubah menjadi kupu-kupu dewasa. Padahal awalnya hanyalah ulat yang hadirnya tak banyak diinginkan manusia. Kini ia sedang berkelana, menghadapi bagaimana sesungguhnya kehidupan dunia. Kegagalan yang pernah dilaluinya tak pernah disesalinya. Dia tak pernah berhenti berusaha. Masih banyak hal yang harus dicapai dan dialami olehnya. Dia masih harus terbang ke satu bunga ke bunga lain untuk mengambil sarinya. Dia adalah aku. Aku berharap, semoga aku bisa sekuat dan seindah kupu-kupu. 

#SehariMenuliSatu Day 4

Kamis, 23 Oktober 2014

Terlalu Takut

Hari baru datang lagi, seperti biasanya aku bisa memandangmu lagi. Di setiap pagi dari balik jendela kelasku, aku terus menanti kedatanganmu. Bila kamu sudah datang sebelum bel sekolah berbunyi aku sungguh bahagia, karna aku bisa memandang wajahmu dulu di pagi hari, dari balik jendela kelasku. Jika setelah memarkirkan motor kau langsung tak acuh pada sekitar, aku akan terus memperhatikanmu jalan sampai menuju kelasmu. Namun, jika setelahnya kau malah memandangi sekitar, aku pasti akan bersembunyi dibalik tirai jendela kelasku. Aku terlalu takut jika kamu melihatku di balik jendela kelasku yang begitu dekat dengan parkiran. Padahal aku rasa kau pun tak akan melihatku. Apabila kamu masih tak kunjung datang ketika bel masuk sudah berbunyi, pada saat istirahat aku pasti akan mencari di mana kamu memarkirkan motormu. Alasanku hanya satu, agar ketika bel pulang sekolah aku tak sulit untuk mencari di mana kamu.

Di atas segala keinginanku untuk selalu melihatmu dan mencari tahu di mana keberadaanmu, aku terlalu takut untuk bertemu. Jika ada saat dimana kita berpapasan, hatiku selalu teriak begitu riang namun hal itu kusembunyikan di balik raut wajah tak peduliku saat bertemu denganmu. Aku terlalu takut jika aku tersenyum saat bertemu, kamu malah mengacuhkanku. Maka lebih baik aku yang lebih dulu tak acuh padamu.Aku ingin kamu melihat adanya aku di sekelilingmu, namun aku begitu takut untuk menunjukkan adanya aku. Entah sampai kapan aku menjadi pengagummu yang begitu bahagia ketika bertemu, namun selalu takut menunjukkan diri siapa aku. Takut akan penolakanmu, takut akan ketidaksukaanmu, dan segala ketakutan lain yang mungkin tak masuk akal. 

#SehariMenuliSatu Day 3

Rabu, 22 Oktober 2014

Pengukir Jejak Hidupku

Atas segala hal yang aku alami di  bumi ada sepasang sepatu yang selalu mengiringi. Mereka berbeda namun tetap satu tujuan. Mereka memiliki langkah masing-masing, tapi tetap tertuju ke tempat yang sama. Sepatuku adalah pengukir jejak langkah hidupku, perekam sejarah kehidupanku. Ia tau bagaimana aku memulai hari sampai dengan menyelesaikan segala tuntutan kehidupan. Sepatuku tahu lelah yang dirasa dalam setiap langkah dan semangat dalam setiap pijak. Dalam sepatu ada harapan, perjuangan dan pengorbanan yang terekam dalam setiap langkahku.

Ini sepatuku, hidupku. Pemilik semesta tlah memberiku segalanya sesuai dengan ukuranku, bukan ukuran manusia lain. Sama halnya dengan sepatu, setiap manusia pasti memiliki ukurannya masing-masing. Hidup manusia sudah dilukiskan oleh pemiliknya, bagaimana takdir yang akan yang dijalaninya, bagaimana rintangan yang akan dilaluinya. Semua tlah memiliki ukurannya masing-masing. Aku, kamu, kita hanya perlu bersyukur atas apa yang telah diberikannya. Tak perlu ragu apalagi ingin seperti orang lain. Ukuran sepatumu juga berbeda dengan ukuran orang lain, bukan ?

#SehariMenuliSatu Day 2

Selasa, 21 Oktober 2014

Seolah Nyata

Ada yang tampak seperti nyata saat ku memandangnya. Rupa yang cantik jelita dihiasi pipi yang merona, senyum manis dari bibir nan tipis, serta mata indah berbinar yang juga mempercantik aura wajahnya. Itu adalah aku. Ya, itu aku rupa keduaku dalam sebuah benda. Benda tak berwarna namun bisa memancarkan wajah siapapun yang sedang memandangnya. Menampakan wujud yang seperti nyata, padahal ia hanya bayangan saja, menampakan rupa apa adanya tanpa tau apa yang dirasakan si pemandangannya. Benda itu adalah cermin.


Dengan bayangan jelasku di cermin, hanya aku dan cerminku yang tahu ada kehampaan, kesedihan, kebahagiaan, serta segala rasa yang begitu sukar diluapkan. Ada haru dari setiap pandangan dua bola mata, ada jutaan kata-kata yang tak  tersampaikan dari senyum manis di bibir tipis ini. Cerminku, dihadapanmu tak ada yang dapat ku sembunyikan, kau tau segalanya tentang perasaanku, dihadapanmu tak ada hal yang dapat ku tutupi, segala yang terlihat nyata kau tau itu hanyalah palsu.


-tiarAlif-

#SehariMenulisSatu Day 1