Pages

Selasa, 28 Oktober 2014

Mencintaimu Seperti Angin

Aku mencintaimu seperti angin,
Kala kau sedih, aku akan selalu ada
Layaknya angin yang selalu ada bersama hujan dengan setia.
Kala kau bahagia, aku akan tetap ada
Sebagai angin penyejuk untukmu yang bersuka ria.

Aku mencintaimu seperti angin,
Aku ada, namun kau tak mampu melihatnya
Kau hanya bisa merasakannya, itu pun jika kau peka
Jika kau tetap tak bisa merasakannya, aku akan tetap ada
Karena cintaku seperti angin, keberadaan dalam ketidak mampuanmu melihatnya


#SehariMenuliSatu Day 8

Senin, 27 Oktober 2014

Pulang

Aku sudah lelah berkelana. Mencari tempat untuk merebah lelah yang tak hanya sementara. Niatku tak ingin hanya singgah, aku ingin pindah. Rumahku yang sebelumnya rasanya hampa, aku ada namun seperti dianggap taka ada. Aku bahagia namun bahagiaku tak sempurna. Namun apa daya, semua niatanku sia-sia saja.

Kini aku kembali pulang. Seberapa sering aku singgah dan berpindah aku kembali lagi pada rumah yang senantiasa memperlakukanku dengan ramah. Aku sudah benar-benar lelah. Aku ingin merebah pada ia yang senantiasa ada dalam rumah. Meski tak sempurna, aku selalu merindukannya. Meski tak seindah yang lainnya aku selalu nyaman ada di dalamnya.Aku takkan lagi pergi, karna rumah ini adalah sebaik-baikya rumah untuk ku diami. Kecuali kau yang sudah tak menginginkan aku berada di sini. Aku memang pergi dan kembali, memang terlihat seperti sesuka hati. Namun percayalah, kau bukanlah rumah yang kujadikan cadangan, kau adalah rumah yang menjadikan tempatku untuk berpulang.



#SehariMenuliSatu Day 7

Minggu, 26 Oktober 2014

Perahuku

Perahuku masih melaju, mengapung setia di atas deras air yang masih mengalir. Sesekali ia mengikuti aliran air, namun lajunya tetap harus diatur agar tak berujung ditempat yang bukan tujuannku. Dalam perjalanannya perahuku sering berguncang akibat riak dan besarnya gelombang lautan kehidupan. Terkadang perjalanan ini begitu nyaman, mengarungi lautan dengan suasana menenangkan. Namun awan tak selalu biru, kala itu perahuku mulai diuji kekokohannya, akankah ia goyah dan tenggelam. atau malah tak lelah menghadapi badai yang menerjang.

Aku dan perahuku sendiri tak pernah tau seberapa panjang perjalanan yang harus ditempuh.Perjalanan ini terasa begitu jauh. Ketika senja mulai hilang dan malam mulai datang, kegelapan menjadi suatu cobaan perjalanan. Ketika matahari terbit dan pagi kembali, harapan baik mulai datang lagi. Aku tak pernah tau sampai kapan perahuku melaju menembus ruang dan waktu, mengarungi kehidupan yang penuh haru biru.

#SehariMenuliSatu Day 6

Sabtu, 25 Oktober 2014

I Can Be Your Band Aid

Aku sudah begitu lama mengenalmu. Bukan hanya satu atau dua hari saja. Sudah ratusan hari dan ribuan jam kita lalui bersama. Bukan untuk sekali atau dua kali juga kau membutuhkanku. Kau ceritakan lagi segala kesahmu, kau curahkan segala sedihmu, kau bagi juga luka yang sedang dirasakan olehmu. Aku dengarkan segala tentang kekasihmu. Kau tersakiti lagi dan lagi untuk sekian kali. Entah sampai kapan kau akan bertahan dengan cinta yang selalu menyakitimu. 

Aku memang tak mengerti bagaimana caramu mencintai, bagaimana caramu bisa bertahan meski sudah tersakiti. Mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan luka. Tapi kau harus sadar kau layak untuk bahagia. Aku memang tak bisa menyembuhkan luka yang kau rasa, but i can be your band aid. Pakai aku untuk menyembuhkan rasa sakitmu dan menutupi lukamu. Kau bisa melakukan itu kapanpun. Jika lukamu sudah mulai sembuh kau bisa melepas dan membuangnya. Seperti yang pernah aku katakan, "I can be your band aid.". 

#SehariMenuliSatu Day 5

Jumat, 24 Oktober 2014

Berkelana Seperti Kupu-kupu

Dia pernah terkucilkan. Hanya memiliki beberapa teman dan jarang sekali bepergian. Dia bukan dari keluarga bangsawan sehingga tak semua yang diinginkan bisa menjadi kenyataan. Keluarganya sederhana, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga dan ayahnya seorang abdi negara yang penghasilannya tak seberapa. Namun itu semua tetap membuatnya bangga. Dia tak pernah lelah untuk berusaha. Meski prestasinya belum pernah sampai menjadi yang pertama dan belum pernah berhasil memasuki sekolah-sekolah impiannya hingga merasa begitu menyusahkan kedua orang tuanya. Namun, segala usaha tak pernah disesalinya, pasti ada kebaikan dari tiap kegagalan yang dialaminya.


Kini, segala yang diinginkan perlahan bisa diwujudkannya. Dia sudah berubah menjadi kupu-kupu dewasa. Padahal awalnya hanyalah ulat yang hadirnya tak banyak diinginkan manusia. Kini ia sedang berkelana, menghadapi bagaimana sesungguhnya kehidupan dunia. Kegagalan yang pernah dilaluinya tak pernah disesalinya. Dia tak pernah berhenti berusaha. Masih banyak hal yang harus dicapai dan dialami olehnya. Dia masih harus terbang ke satu bunga ke bunga lain untuk mengambil sarinya. Dia adalah aku. Aku berharap, semoga aku bisa sekuat dan seindah kupu-kupu. 

#SehariMenuliSatu Day 4