Pages

Kamis, 30 Oktober 2014

Penerang Kehidupan

Ia berada dekat denganmu. Di kepalamu bahkan di hatimu. Ia yang selalu memenuhi ruang pikiranmu. Ia pun senantiasa ada di dalam relung hatimu. Tak semua manusia mungkin bisa tahu dan sadar. Semuanya tergantung apa yang mereka lakukan dalam menjalani kehidupan.

Ia adalah penciptamu, pemilik semesta beserta segala isinya. Ia akan selalu menerangi pikiranmu. Kala kau jauh dariNya pikiran dan hatimu akan didekap gelap. Ia adalah lampu penerang kehidupanmu. Kala terang, kau bisa melakukan segala hal dengan perasaan tenang, namun jika gelap kau tak bisa melakukan apapun. Seperti berada dalam gua yang gelap, kau bisa berjalan tapi tak tau arah tujuan. 

#SehariMenuliSatu Day 10

Rabu, 29 Oktober 2014

Lagu Untuk Ayah

Berbicara tentang musik tidak aka nada habisnya. Musik ada di dunia dan mengisi har-hari kehidupan manusia di bumi. Segala jenis musik tercipta dan menjadi selera masing masing orang. Adanya musik membuat kehidupan manusia lebih berwarna. Lagu-lagu yang tercipta memiliki makna tersendiri untuk pendengarnya. Sedih dan bahagia musik bisa menjadi sarana sebagai ungkapan rasa seorang manusia. Maka tak heran jika setiap orang memiliki lagu kesukaannya masing-masing sesuai dengan suasana hatinya.


Aku sendiri memiliki lagu yang bisa dibilang menjadi soundtrack kehidupanku. Ada Band – Yang terbaik bagimu, adalah salah satu yang bisa disebut soundtrack untuk kehidupanku. Setiap mendengarkan lagu itu aku pasti menitikan air mata. Lagu itu mengingatkanku akan ayah. Bagaimana indahnya masa kecilku, bagaimana segala yang kuiingkinkan selalu dituruti, bagaimana beliau selalu menasihati setiap kesalahan yang pernah ku perbuat. Melalui lagu ini aku ingin menyampaikan rasa sayang yang begitu mendalam kepada ayah. Tiada lelaki terbaik di dunia ini selain ayah. Tak heran jika anak perempuan begitu menyayangi ayahnya. Karena ayah adalah cinta pertama bagi anak peempuannya.

#SehariMenuliSatu Day 9

Selasa, 28 Oktober 2014

Mencintaimu Seperti Angin

Aku mencintaimu seperti angin,
Kala kau sedih, aku akan selalu ada
Layaknya angin yang selalu ada bersama hujan dengan setia.
Kala kau bahagia, aku akan tetap ada
Sebagai angin penyejuk untukmu yang bersuka ria.

Aku mencintaimu seperti angin,
Aku ada, namun kau tak mampu melihatnya
Kau hanya bisa merasakannya, itu pun jika kau peka
Jika kau tetap tak bisa merasakannya, aku akan tetap ada
Karena cintaku seperti angin, keberadaan dalam ketidak mampuanmu melihatnya


#SehariMenuliSatu Day 8

Senin, 27 Oktober 2014

Pulang

Aku sudah lelah berkelana. Mencari tempat untuk merebah lelah yang tak hanya sementara. Niatku tak ingin hanya singgah, aku ingin pindah. Rumahku yang sebelumnya rasanya hampa, aku ada namun seperti dianggap taka ada. Aku bahagia namun bahagiaku tak sempurna. Namun apa daya, semua niatanku sia-sia saja.

Kini aku kembali pulang. Seberapa sering aku singgah dan berpindah aku kembali lagi pada rumah yang senantiasa memperlakukanku dengan ramah. Aku sudah benar-benar lelah. Aku ingin merebah pada ia yang senantiasa ada dalam rumah. Meski tak sempurna, aku selalu merindukannya. Meski tak seindah yang lainnya aku selalu nyaman ada di dalamnya.Aku takkan lagi pergi, karna rumah ini adalah sebaik-baikya rumah untuk ku diami. Kecuali kau yang sudah tak menginginkan aku berada di sini. Aku memang pergi dan kembali, memang terlihat seperti sesuka hati. Namun percayalah, kau bukanlah rumah yang kujadikan cadangan, kau adalah rumah yang menjadikan tempatku untuk berpulang.



#SehariMenuliSatu Day 7

Minggu, 26 Oktober 2014

Perahuku

Perahuku masih melaju, mengapung setia di atas deras air yang masih mengalir. Sesekali ia mengikuti aliran air, namun lajunya tetap harus diatur agar tak berujung ditempat yang bukan tujuannku. Dalam perjalanannya perahuku sering berguncang akibat riak dan besarnya gelombang lautan kehidupan. Terkadang perjalanan ini begitu nyaman, mengarungi lautan dengan suasana menenangkan. Namun awan tak selalu biru, kala itu perahuku mulai diuji kekokohannya, akankah ia goyah dan tenggelam. atau malah tak lelah menghadapi badai yang menerjang.

Aku dan perahuku sendiri tak pernah tau seberapa panjang perjalanan yang harus ditempuh.Perjalanan ini terasa begitu jauh. Ketika senja mulai hilang dan malam mulai datang, kegelapan menjadi suatu cobaan perjalanan. Ketika matahari terbit dan pagi kembali, harapan baik mulai datang lagi. Aku tak pernah tau sampai kapan perahuku melaju menembus ruang dan waktu, mengarungi kehidupan yang penuh haru biru.

#SehariMenuliSatu Day 6